Erlin Puspaputri memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan kebijakan dan program pendidikan tinggi. Dalam CV yang disampaikan, ia tercatat pernah menjabat Coordinator of Research Division pada Directorate of Institutional Affairs, Directorate General of Higher Education, serta sebelumnya sebagai Sub Coordinator pada unit yang sama. Ia juga memiliki latar belakang Master of Science in Education dari University of Groningen, Belanda, serta pernah mengikuti International Leaders in Education Program di University of Minnesota melalui program Fulbright–AMINEF.
🌐 This content was automatically translated from Indonesian.
MAKASSAR, 1 September 2026 — Persaingan memperoleh pendanaan penelitian nasional semakin kompetitif. Kondisi tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam LP2S – Transformation & Impact Strategic Forum 2026 yang berlangsung pada 1–2 September 2026 di Gedung Menara, Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
Forum yang menjadi bagian dari agenda penyusunan Rencana Operasional (Renop) LP2S UMI 2026–2031 tersebut menghadirkan Erlin Puspaputri* dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebagai salah satu narasumber. Dalam paparannya mengenai Program di Pokja Penelitian, Erlin memberikan gambaran perkembangan pengajuan proposal penelitian nasional sekaligus berbagai skema dan peluang pendanaan penelitian yang tersedia bagi perguruan tinggi. Data yang disampaikan menunjukkan peningkatan signifikan jumlah proposal yang masuk. Pada 2026 tercatat 78.818 proposal penelitian baru, sementara proposal yang didanai sebanyak 10.302 dengan total pagu dana sekitar Rp1,029 triliun. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kompetisi penelitian nasional semakin ketat dan menuntut perguruan tinggi memiliki strategi yang lebih kuat dalam membangun kapasitas dan kualitas riset. Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi LP2S UMI untuk tidak hanya meningkatkan jumlah proposal, tetapi juga memperkuat kualitas, relevansi, keunggulan, dan kesiapan riset agar mampu bersaing dalam berbagai skema pendanaan nasional. Salah satu program yang mendapat perhatian adalah Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT). Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan riset, inovasi, dan ilmu pengetahuan dan teknologi di perguruan tinggi, termasuk meningkatkan mutu hasil penelitian, membangun kolaborasi dan jejaring riset nasional, meningkatkan publikasi kelas dunia serta paten/HKI, dan mendorong hasil penelitian agar diterapkan oleh masyarakat. Menariknya, materi tersebut menunjukkan bahwa PUI-PT tidak sekadar berbicara mengenai aktivitas penelitian. Kandidat PUI-PT harus memiliki rekam jejak, bidang fokus yang jelas, orientasi sains atau produk, dukungan sarana, kreativitas dan inovasi, serta target yang mencakup output, outcome, dan impact. Perspektif tersebut sejalan dengan arah transformasi LP2S UMI yang tengah dirumuskan melalui Transformation & Impact Strategic Forum 2026: riset tidak boleh berhenti pada proposal dan publikasi, tetapi harus bergerak menuju keunggulan, hilirisasi, dan dampak. Selain peluang pendanaan nasional, Erlin juga memaparkan peluang Program Penelitian Kerja Sama Luar Negeri, termasuk skema bilateral joint funding dan multilateral joint funding. Salah satu contoh yang ditampilkan adalah PHC Nusantara yang diarahkan untuk mendorong dan mengembangkan kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk mendorong partisipasi peneliti early-career researchers dan mahasiswa doktoral. Bagi LP2S UMI, berbagai informasi tersebut menjadi masukan strategis dalam menyusun Renop 2026–2031, terutama dalam membangun kelompok riset unggulan, meningkatkan daya saing proposal, mengembangkan pusat unggulan, memperluas jejaring nasional dan internasional, serta mengarahkan penelitian menuju output, outcome, dan impact yang terukur. Kehadiran narasumber dari DPPM juga memberikan perspektif penting bahwa transformasi riset di perguruan tinggi harus dibangun berdasarkan kualitas dan keunggulan, bukan semata-mata banyaknya proposal yang diajukan. Dengan demikian, pesan penting yang dapat dibawa pulang dari sesi ini adalah: “Di tengah kompetisi riset nasional yang semakin ketat, LP2S UMI tidak cukup hanya mendorong lebih banyak proposal. Yang diperlukan adalah lebih banyak riset yang unggul, kompetitif, kolaboratif, dan menghasilkan dampak.”


