
MAKASSAR, 1 September 2026 — Membangun perguruan tinggi yang kuat dalam riset tidak cukup hanya dengan memperbanyak penelitian dan publikasi. Dibutuhkan ekosistem yang mampu menemukan, membina, mendukung, dan mengembangkan talenta hingga lahir peneliti unggul atau research champion. Pesan tersebut mengemuka dalam LP2S – Transformation & Impact Strategic Forum 2026 yang berlangsung pada 1–2 September 2026 di Gedung Menara, Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Forum yang menjadi bagian dari proses penyusunan Rencana Operasional (Renop) LP2S UMI 2026–2031 tersebut menghadirkan Prof. Dr.rer.pol. Heri Kuswanto, M.Si, Direktur Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan, Direktorat Jenderal Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebagai salah satu narasumber. Dalam paparannya, Prof. Heri yang juga pakar komputasi Statistik ITS menegaskan arah program pembinaan talenta penelitian yang berorientasi pada terbentuknya ekosistem penelitian yang kuat dan kondusif. Fokus riset diarahkan pada pemecahan masalah dan kemampuan menjawab tantangan masyarakat, dengan riset berdampak sebagai tujuan akhirnya. Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah perlunya membangun talenta secara sistematis. Strategi pembinaan dimulai dari identifikasi talenta, dilanjutkan dengan pelatihan komprehensif, bimbingan peneliti senior, dukungan riset, pemberian insentif, hingga penguatan kolaborasi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa peneliti unggul tidak lahir secara instan, tetapi perlu dibangun melalui proses pembinaan yang berkelanjutan. Penguatan talenta tersebut kemudian didukung melalui berbagai program, antara lain pelatihan dan workshop penulisan proposal penelitian, hibah penguatan ekosistem talenta riset, hibah peningkatan kapasitas peneliti, serta kerja sama penguatan talenta riset dan inovasi. Program tersebut menyasar berbagai kelompok, mulai dari dosen muda, dosen senior hingga mahasiswa pascasarjana. Tidak hanya kemampuan meneliti, pengembangan talenta juga diarahkan pada kemampuan menghasilkan dan menyebarluaskan karya ilmiah berkualitas. Program fasilitasi publikasi ilmiah mencakup inclusive publication camp, pelatihan penulisan artikel ilmiah, hingga insentif publikasi pada jurnal Q1 dan top tier. Menariknya, pengembangan talenta juga dihubungkan dengan penguatan ekosistem hilirisasi. Program penguatan unit intermediasi pemanfaatan riset dan pengembangan diarahkan antara lain pada penguatan Science Techno Park (STP), transfer teknologi, dan komersialisasi hasil riset. Dengan demikian, talenta penelitian tidak hanya didorong menghasilkan publikasi, tetapi juga mampu membawa hasil riset menuju pemanfaatan yang lebih luas. Prof. Heri juga memperkenalkan skema Riset Strategis “Academic Leader”, yang antara lain mencakup pendanaan penelitian, research mobility untuk mendukung mobilitas dan menghadirkan kolaborator termasuk diaspora, graduate assistantship untuk mendukung mahasiswa pascasarjana, serta fellowship untuk mendukung perekrutan postdoctoral. Bagi LP2S UMI, pemaparan tersebut memberikan perspektif penting dalam penyusunan Renop 2026–2031. Pengembangan sumber daya penelitian perlu diarahkan bukan hanya pada peningkatan jumlah peneliti, tetapi pada terbentuknya talenta riset yang memiliki kompetensi, rekam jejak, jejaring, kemampuan menghasilkan publikasi berkualitas, serta kapasitas membawa riset menuju dampak. Perspektif ini sekaligus memperkuat semangat transformasi LP2S UMI: membangun sistem yang mampu mengidentifikasi potensi, memberikan ruang tumbuh, menyediakan dukungan, mempertemukan talenta dengan mentor dan mitra, serta mengarahkan talenta terbaik menjadi peneliti unggul yang membawa nama dan dampak bagi UMI. “Talenta riset tidak cukup hanya ditemukan. Talenta harus dibina, diberi kesempatan, didukung, dikolaborasikan, dan diarahkan hingga menjadi champion.” Pesan tersebut menjadi salah satu inspirasi penting bagi LP2S UMI dalam merancang program lima tahun ke depan—dari sekadar mengelola penelitian menuju membangun ekosistem yang melahirkan peneliti unggul dan menghasilkan riset yang berdampak.


