MAKASSAR, 1 September 2026 — Penguatan ekosistem riset perguruan tinggi membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menghasilkan penelitian. Data, pengetahuan lokal, kolaborasi, serta akses terhadap skema pendanaan menjadi bagian penting dalam membangun riset yang unggul dan berdampak. Perspektif tersebut mengemuka dalam LP2S – Transformation & Impact Strategic Forum 2026 yang berlangsung pada 1–2 September 2026 di Gedung Menara, Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Forum tersebut menghadirkan Ismail Sulaiman dari Direktorat Tata Kelola Perizinan Riset dan Inovasi dan Otoritas Ilmiah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagai salah satu narasumber yang memberikan perspektif mengenai pengelolaan data riset, Program Akuisisi Pengetahuan Lokal, serta berbagai peluang pendanaan dan fasilitasi riset dan inovasi BRIN. Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah bahwa data merupakan aset strategis penelitian. Data yang dikumpulkan, disimpan, diolah, dan dianalisis tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi, membaca kecenderungan, melakukan prediksi, hingga mendukung pengambilan keputusan. Karena itu, kesadaran terhadap kewajiban wajib serah dan wajib simpan data primer dan keluaran hasil riset menjadi bagian penting dalam tata kelola penelitian.  Dalam pemaparannya juga disoroti bahwa kesadaran terhadap wajib serah wajib simpan masih perlu diperkuat. Sebagian data penelitian masih tersimpan pada repositori internal dan terdapat kekhawatiran terkait keamanan data maupun belum tersampaikannya regulasi secara utuh kepada para peneliti. Ke depan, data riset yang tersimpan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pembangunan nasional sekaligus menjadi rujukan bagi penelitian lanjutan dan para pengambil keputusan.  Pengetahuan Lokal sebagai Aset Riset Hal menarik lainnya adalah Program Akuisisi Pengetahuan Lokal (APL). Program ini lahir dari kesadaran bahwa Indonesia memiliki kekayaan pengetahuan lokal yang sangat besar, tetapi sebagian di antaranya berpotensi hilang karena diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.  Program APL diarahkan untuk mendokumentasikan dan mengonversi pengetahuan lokal ke dalam bentuk buku maupun audiovisual, sekaligus menyediakan sumber literasi yang dapat diakses masyarakat. Ruang lingkupnya mencakup antara lain pelestarian sumber daya alam, hasil penelitian dan pengembangan, kebudayaan dan kesenian, serta berbagai praktik pemanfaatan pengetahuan lokal.  Bagi UMI, program tersebut membuka peluang bagi dosen, peneliti, mahasiswa, maupun komunitas untuk mendokumentasikan kekayaan pengetahuan lokal Sulawesi Selatan dan kawasan Indonesia Timur agar tidak hanya menjadi pengetahuan yang tersimpan di masyarakat, tetapi berkembang menjadi sumber literasi, bahan penelitian, dan warisan pengetahuan yang terdokumentasi. Peluang Pendanaan Riset BRIN Dalam sesi yang sama, BRIN juga memperkenalkan sejumlah skema pendanaan dan fasilitasi riset dan inovasi, antara lain Pusat Kolaborasi Riset (PKR), RIIM Kolaborasi, RIIM Start Up, RIIM Kompetisi, Riset dan Inovasi Strategis, serta pengujian produk inovasi teknologi, kesehatan, dan pertanian-pangan.  Khusus Pusat Kolaborasi Riset, pendanaan diarahkan untuk membantu institusi atau lembaga mengembangkan pusat kolaborasi riset dan inovasi pada bidang spesifik secara multidisiplin, dengan orientasi membangun kolaborasi yang berstandar nasional dan berpotensi bereputasi internasional. Skema tersebut dibangun berbasis kegiatan riset yang telah berjalan.  Sementara RIIM Kolaborasi dirancang sebagai platform kerja sama nasional dan global yang inklusif dan kolaboratif, termasuk kolaborasi antara periset Indonesia dengan periset dari negara lain. Salah satu luaran yang ditargetkan adalah publikasi bereputasi dan/atau kekayaan intelektual internasional.  Adapun RIIM Kompetisi diarahkan untuk mempercepat kebaruan (novelty) serta mendorong lahirnya invensi dan terobosan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki keunggulan kompetitif.  Berbagai informasi tersebut memberikan peluang sekaligus tantangan bagi LP2S UMI dalam menyusun Renop 2026–2031. UMI perlu mulai membangun portofolio riset yang siap dikolaborasikan, memperkuat rekam jejak kelompok riset, mengintegrasikan data penelitian, serta secara proaktif memetakan skema pendanaan nasional maupun internasional yang sesuai dengan kekuatan riset UMI. Pada akhirnya, kehadiran BRIN dalam forum strategis LP2S UMI memberikan satu pesan penting: riset yang kuat membutuhkan ekosistem yang kuat—data yang tertata, talenta yang berkembang, kolaborasi yang produktif, pendanaan yang tepat, serta kemampuan membawa hasil penelitian menuju pemanfaatan. “Jangan biarkan data hanya menjadi arsip dan pengetahuan lokal hanya menjadi cerita. Keduanya harus diolah menjadi aset pengetahuan yang memperkuat riset dan memberikan manfaat bagi masyarakat.” Pesan tersebut menjadi salah satu masukan strategis bagi LP2S UMI dalam merumuskan Renop 2026–2031, sekaligus memperkuat tekad untuk menjadikan UMI bukan hanya sebagai penghasil penelitian, tetapi sebagai bagian dari ekosistem riset nasional yang mampu berkolaborasi, berinovasi, dan menghasilkan dampak.