LP2S UMI, 5 SEPTEMBER 2026 - Inovasi teknologi budidaya rumput laut kembali dikembangkan melalui Keramba Jaring Apung Rumput Laut (KJARL) Bersekat, sebuah prototipe yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi pengelolaan, serta ketahanan rumput laut terhadap kehilangan akibat hama dan cuaca.

Prototipe tersebut merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset Prioritas – Pengujian Prototipe dengan judul “Pengembangan Budidaya Rumput Laut Menggunakan Keramba Jaring Apung Bersekat”.

Pengembangan KJARL Bersekat dilatarbelakangi oleh tingginya nilai ekonomi dan meningkatnya permintaan terhadap rumput laut. Di sisi lain, budidaya konvensional masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain produktivitas yang belum optimal, kerentanan terhadap hama dan penyakit, serta penggunaan teknologi budidaya yang belum sepenuhnya efisien dan ramah lingkungan.

Melalui desain KJARL Bersekat, area budidaya dibagi menjadi 16 petak berukuran 1 x 1 meter dalam satu unit keramba berukuran 4 x 4 meter. Sistem tersebut dirancang untuk memudahkan pengelolaan dan pemantauan rumput laut sekaligus mengurangi risiko kehilangan akibat gangguan hama maupun kondisi cuaca.

Produktivitas Meningkat 75 Persen

Hasil uji lapangan selama 23 hari pemeliharaan menunjukkan performa yang menjanjikan. Biomassa rumput laut meningkat dari 80 kilogram pada kondisi awal menjadi 140 kilogram pada akhir pemeliharaan.

Dengan demikian, terjadi peningkatan biomassa sebesar 60 kilogram atau sekitar 75 persen.

Selain peningkatan produktivitas, prototipe juga menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang mencapai 95 persen, dengan kondisi rumput laut relatif stabil selama pemeliharaan.

Hasil pengujian juga menunjukkan sejumlah keunggulan operasional. KJARL Bersekat dinilai stabil di perairan budidaya, mudah dioperasikan, memudahkan pengelolaan dan panen, serta tidak mengalami kerusakan struktur selama pengamatan.

Keunggulan tersebut menjadi penting dalam pengembangan budidaya rumput laut yang lebih produktif dan berkelanjutan. Pemerintah sendiri terus mendorong pengembangan rumput laut sebagai salah satu komoditas strategis perikanan budi daya dan bagian dari agenda ekonomi biru. 

Dirancang Ramah Lingkungan

Dari sisi konstruksi, prototipe menggunakan sejumlah material yang dirancang untuk mendukung operasional di lingkungan perairan, antara lain pipa PVC, rangka stainless steel, tali PE, serta pelampung PVC.

Pengembangan teknologi tersebut juga sejalan dengan arah penguatan budidaya rumput laut yang produktif, berkualitas, dan berkelanjutan. Kementerian Kelautan dan Perikanan sebelumnya juga telah mengembangkan berbagai model budidaya rumput laut berbasis kawasan serta teknologi bibit kultur jaringan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas komoditas tersebut. 

Enam Tahapan Pengembangan

Pengembangan prototipe KJARL Bersekat dilakukan melalui enam tahapan utama, yaitu:

  1. Perancangan teknis, meliputi desain, perhitungan struktur, dan stabilitas.
  2. Fabrikasi rangka, berupa pembuatan dan perakitan rangka prototipe.
  3. Perakitan dan pemasangan jaring.
  4. Penebaran bibit rumput laut.
  5. Uji operasional lapangan selama masa pemeliharaan.
  6. Evaluasi dan penyempurnaan berdasarkan hasil pengujian.

Rangkaian pengembangan tersebut diharapkan menghasilkan teknologi budidaya yang tidak hanya mampu meningkatkan hasil produksi, tetapi juga lebih praktis diterapkan oleh pembudidaya.

Dorong Hilirisasi Riset

Pengembangan KJARL Bersekat menjadi salah satu bentuk pemanfaatan hasil riset untuk menjawab persoalan nyata di sektor budidaya rumput laut. Inovasi seperti ini memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut melalui pengujian pada skala dan kondisi perairan yang lebih beragam.

Dengan hasil awal berupa peningkatan biomassa 75 persen dan tingkat kelangsungan hidup 95 persen, prototipe KJARL Bersekat menunjukkan prospek sebagai alternatif teknologi budidaya rumput laut yang produktif, efisien, dan adaptif.

Ke depan, pengembangan dan validasi teknologi masih perlu dilakukan melalui pengujian lanjutan agar kinerja prototipe dapat dikonfirmasi pada berbagai kondisi lingkungan dan skala produksi. Langkah tersebut penting untuk mendorong hasil riset menuju tahap penerapan yang lebih luas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pembudidaya rumput laut.

Tim peneliti:
Ketua Peneliti: Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, M.Si.
Anggota peneliti dan mahasiswa tercantum dalam dokumentasi program.