79 Peserta se-Indonesia Ikuti Workshop Penelitian Kualitatif LP2S UMI

79 Peserta dari berbagai wilayah di Indonesia ikuti Online Course bertajuk ‘Workshop Metodologi Penelitian Kualitatif’ yang dilaksanakan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya (LP2S) Universitas Muslim Indonesia (UMI), Senin (27/7/2020).

Workshop yang dibuka langsung Ketua LP2S UMI, Prof. Dr. H. Syahnur Said, MSi. ini menghadirkan Narasumber Dr. Ari Kamayanti, A.Md., SE.,MM.,MSA.,AK.,CA, Direktur Peneleh Research Institute yang juga Dosen Politeknik Negeri Malang.

Dalam sambutannya, Prof Syahnur menyampaikan bahwa kegiatan workshop ini merupakan kegiatan yang ketiga dan bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan keilmuan dosen di bidang penelitian khususnya metodologi penelitian kualitatif.

“Penelitian merupakan ruh dan esensi dosen. Penelitian merupakan suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah yang dilakukan dengan penerapan metode ilmiah,” ungkapnya.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMI ini mengatakan, kegiatan ini hanya menghadirkan satu narasumber agar peserta pelatihan bisa mengikuti alur materi secara terstruktur dan rapi. “Pelatihan 3 (tiga) hari ini sengaja kami menetapkan narasumber tunggal agar Bapak/Ibu dapat mengikuti secara runtut terkait bagaimana filosofi sampai kepada penyajian penelitian kualitatif ,” imbuh Prof Syahnur.

79 peserta yang hadir dalam online course ini diikuti oleh Dosen Universitas Muslim Indonesia dan Dosen dari luar UMI, diantaranya; Universitas Mataram, Universitas Islam Malang, STIE Amkop, Unifa, dan beberapa utusan PT Kab/Kota se Sulsel.

Sementara itu, Dr. Ari Kamayanti, A.Md., SE.,MM.,MSA.,AK.,CA, selaku narasumber mengawali materi dengan menyampaikan filosofi penelitian kualitatif bahwa setiap aktivitas yang dilakukan tergantung niatnya termasuk dalam melaksanakan penelitian. Penelitian berpihak adalah penelitian yang meyakini bahwa nilai tertentu harus ditegakkan, diaksikan oleh karenanya tujuan penelitian harus menggerakkan Hijrah (perubahan menuju kebaikan religus dan kebangsaan).

Lanjut dikatakan, pendekatan kualitatif ada pada sebuah kontinuum (antara subjektif-objektif sampai dengan sangat subjektif). Bagi peneliti kualitatif, ilmu itu tidak harus objektif, karena objektivitas tidak ada, dan jika objektivitas tidak ada maka bentuk pengukuran (kuantitas) tidak lagi penting.

‘Penelitian kualitatif jauh lebih subjektif dari pada penelitian atau survei kuantitatif. Sebab penelitian kualitatif menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam.

Dr Ari juga menyampaikan etika penelitian kualitatif, yaitu sampaikan maksud penelitian, ijin terlebih dahulu sebelum merekam, mencatat dan wajib melindungi informasi,’ jelasnya.

(LP2S UMI)