Peneliti UMI Penerima Hibah DPPM 2025 Menghasilkan Feasibility Study Tentang Konsep Kualitas Layanan Kesehatan yang Inklusif, Aman, dan Berkeadilan (Kajian Kelayakan Aspek Kesehatan, Arsitektur Estetika, dan Teknologi Industri berbasis Antropometri dan Ergonomi

Oleh Tim Pengusul:
Ketua : Dr. Nurmiati Muchlis, SKM.,M.Kes
Anggota : Prof. Dr. AR. Ir. Naidah Naing, ST.,M.Si.,IAI., IPU
Dr. Ir. Irma Nur Afiah, MT, IPM., ASEAN Eng.
Az-Zahra Dea I Gabrichs
Lisa Alfianita
Jingga

1. Ringkasan Eksekutif

Studi ini menilai kelayakan penerapan konsep kualitas layanan kesehatan yang inklusif, aman, dan berkeadilan melalui inovasi servicescape di fasilitas kesehatan Kota Makassar. Model yang dihasilkan mengintegrasikan aspek kesehatan, arsitektur (estetika), dan teknologi industri dengan memperhatikan data antropometri lansia serta pengukuran lingkungan (suhu, kelembaban, pencahayaan, kebisingan).
Hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi lingkungan fisik saat ini belum sepenuhnya memenuhi standar kenyamanan dan keselamatan. Namun, dengan penerapan prinsip antropometri–ergonomi serta intervensi desain, konsep ini dinyatakan layak diterapkan untuk meningkatkan patient safety dan cooperative behavior tenaga kesehatan–pasien rentan.

2. Latar Belakang

Lingkungan fisik (servicescape) merupakan elemen penting dalam pelayanan kesehatan. Desain ruang yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko kecelakaan, memicu human error, serta menghambat komunikasi antar tenaga kesehatan dan pasien, terutama pada kelompok rentan (ibu hamil, lansia, disabilitas).
Di Makassar, layanan kesehatan menghadapi tantangan: ruang tunggu panas, pencahayaan tidak merata, kebisingan tinggi, serta sarana yang belum ramah antropometri lansia. Oleh karena itu, diperlukan model inovasi servicescape berbasis multidisiplin untuk menciptakan layanan kesehatan inklusif dan berkeadilan.

3. Tujuan

1. Menghasilkan model inovasi servicescape yang mendukung cooperative behavior perawat dan pasien.
2. Meningkatkan patient safety khususnya pada kelompok rentan.
3. Menyusun konsep layanan kesehatan berbasis antropometri dan ergonomi.
4. Memberikan rekomendasi kebijakan desain ruang layanan berbasis bukti (evidence-based design).

4. Metodologi

Mixed-Method:
Kuantitatif: Survei 300 responden (perawat, pasien lansia, ibu hamil, disabilitas), pengukuran antropometri & ergonomi, analisis SEM (AMOS, Mplus).
Kualitatif: Observasi, FGD, wawancara mendalam, workshop.
Informan Utama: Direktur RSUD Daya, Dinas Kesehatan, kepala puskesmas, perawat, pasien rentan.

Analisis Data: Fenomenologi untuk integrasi servicescape, cooperative behavior, dan patient safety.

5. Pasar Produk Layanan

1. Segmen Pasar Utama: RSUD, puskesmas, klinik di Makassar.
2. Segmen Potensial: Fasilitas kesehatan di wilayah Sulawesi Selatan dan nasional.
3. Kelompok Sasaran: Pasien rentan, tenaga kesehatan, manajemen fasilitas kesehatan.
4. Permintaan Pasar: Tingginya kebutuhan layanan ramah lansia & disabilitas seiring tuntutan akreditasi rumah sakit/puskesmas.

6. Pertimbangan Kelayakan
A. Aspek Teknologi
1. Teknologi antropometri & ergonomi untuk desain fasilitas.
2. Smart healthcare: sensor suhu, pencahayaan otomatis, sistem antrian digital.
3. Teknologi aksesibilitas: ramp kursi roda, layar informasi huruf besar, voice guidance.

B. Aspek Lingkungan (Arsitektur & Estetika)
1. Ruang tunggu inklusif, pencahayaan merata, ventilasi sehat.
2. Estetika menenangkan (warna, pencahayaan alami).
3. Wayfinding jelas & ramah disabilitas.

C. Aspek Sosial
1. Meningkatkan kenyamanan interaksi tenaga kesehatan–pasien.
2. Mengurangi diskriminasi layanan.
3. Meningkatkan kepercayaan masyarakat.

D. Aspek Hukum & Regulasi
1. UU No. 36/2009 tentang Kesehatan.
2. Permenkes tentang akreditasi RS & puskesmas.
3. SNI terkait antropometri & ergonomi.
4. Regulasi aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.

7. Data Pendukung
7.1 Data Antropometri Lansia (116 Responden)
1. Mayoritas perempuan (81%).
2. Usia terbanyak: pra-lansia (60–69 tahun, 55%).
3. Tinggi badan dominan 151–160 cm (53%).
4. Berat badan terbanyak 56–65 kg (37%).
5. Rentang tangan 151–160 cm, panjang lengan 69–72 cm.
6. Lebar pinggul 46–55 cm, lebar bahu 41–43 cm.


👉 Implikasi: Perlu kursi, meja, pegangan tangan, dan ruang tunggu ergonomis sesuai ukuran rata-rata lansia.

7.2 Data Servicescape (5 Puskesmas di Makassar)

Suhu: 28,9–30,7°C → di atas standar kenyamanan (24–26°C).

1. Risiko: panas, menurunkan konsentrasi, tidak nyaman bagi lansia.
2. Kelembaban: 60–65% → cenderung tinggi.
3. Risiko: pertumbuhan jamur & bakteri.
4. Pencahayaan: 44–173 lux → tidak merata, beberapa titik <100 lux. 5. Risiko: gangguan visual, kesalahan kerja. 6. Kebisingan: 39–83 dB → melebihi batas aman 60 dB. 7. Risiko: komunikasi terganggu, stres meningkat.

👉 Implikasi: Dibutuhkan perbaikan ventilasi, pendinginan ruang, distribusi pencahayaan, dan sistem akustik.

8. Analisis Kelayakan

9. Analisis Risiko & Mitigasi

1. Finansial: Biaya renovasi → Mitigasi: pendanaan bertahap, CSR.
2. Sosial: Resistensi tenaga kesehatan → Mitigasi: pelatihan & workshop.
3. Teknologi: Ketergantungan digital → Mitigasi: sistem manual cadangan.

10. Kesimpulan & Rekomendasi

Studi ini menyimpulkan bahwa konsep kualitas layanan kesehatan inklusif, aman, dan berkeadilan berbasis antropometri–ergonomi layak diterapkan di fasilitas kesehatan Kota Makassar.

Rekomendasi implementasi:

1. Pilot project di RSUD Daya & puskesmas percontohan.
2. Penyusunan SOP dan panduan desain servicescape inklusif.
3. Integrasi teknologi & pelatihan SDM.
4. Evaluasi berkelanjutan dengan indikator patient safety & cooperative behavior.